Nasional

Menjelang Pemilu Mempolitisasi Biksu di Pilpres

https://scontent-sin6-1.xx.fbcdn.net/v/t1.0-9/56408493_757452071322856_8099615477606645760_n.jpg?_nc_cat=1&_nc_eui2=AeE24ZNre5qZNZE7Sepf4PKBJ9M9OLY4-vLsBaoVq8cO0gjDHJzrvPMk1hYMYh7KutulJNeFQY0JQneCjgH8kaJAlVCt8pHKJwK-A8hx6q57Cw&_nc_ht=scontent-sin6-1.xx&oh=9382fbf7e3e3727408cbfba35d9517de&oe=5D4272E0

Viralnya pelbagai foto di media sosial terkait beberapa oknum biksu yang ikut dalam acara dan parade salah satu pasangan calon presiden dan wakil presiden.

Sebagai Sekretaris Jenderal Presidium Pusat Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (PP HIKMAHBUDHI), menurut kami, umat Buddha berada pada posisi netral dan sudah sangat cerdas menentukan pilihan calon presiden dan wakil presiden di Pemilu nanti.

Umat Buddha sudah cerdas dan pandai dalam menentukan pemimpin mereka untuk lima tahun ke depan. Kami yakin semua memiliki pilihan masing-masing yang tidak boleh diganggu.

Terkait keterlibatan biksu yang ikut bersama dalam barisan pendukung salah satu calon presiden dan wakil presiden. Kami menyayangkan sikap biksu yang seharusnya tidak ikut terlibat dalam kegiatan politik praktis.

Kalau biksunya terlibat politik praktis dan mendukung salah satu paslon jelas sangat disayangkan. Biksu seharusnya tidak perlu ikut-ikutan dalam kegiatan politik praktis karena dapat menimbulkan persepsi berbeda di tengah masyarakat.

Kami jelas menentang jika ada upaya-upaya politisasi biksu dalam Pemilu. Kami menginginkan pemilu yang damai tanpa adanya politisasi agama. Terakhir kami mewakili representasi golongan muda Umat Buddha Indonesia yang tergabung di dalam Presidium Pusat Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia, mengingatkan kembali kepada seluruh umat Buddha dan seluruh masyarakat Indonesia untuk mengawal Pemilu agar tercipta Pemilu yang damai, aman, dan tenteram.

Umat Buddha dan semua masyarakat harus mengawal Pemilu agar tetap damai dan aman dan harus menggunakan hak pilih sesuai hati nurani untuk memilih pemimpin yang baik demi masa depan bangsa lima tahun ke depan.

Sementara itu, Konferensi Sangha Agung Indonesia (KASI) dalam hal ini diwakili oleh Sekjennya, Biksu Bhadra Ruci, melalui surat resminya pada Senin, 8 April 2019 menyampaikan, “Merujuk maraknya berita dan foto-foto yang beredar di media sosial beberapa hari terakhir ini, perihal adanya anggota Sangha yang ikut dalam parade dan kampanye salah satu pihak kandidat capres, maka dengan ini diklarifikasi bahwa biksu-biksu tersebut tidaklah tergabung ke dalam Konferensi Agung Sangha Indonesia (KASI).

“KASI, sebagai bagian dari bangsa Indonesia, turut mendukung pesta demokrasi bangsa Indonesia yang akan mencapai puncaknya pada 17 April 2019 yang akan datang, namun KASI tetap memegang posisi netral dalam perhelatan tersebut. Semoga Pemilu 2019 ini berjalan lancar dan damai, dilindungi oleh Para Buddha dan Bodhisattwa.”

Berikut Pernyataan dari KASI:


Copas by Ibu Merry Wijaya Kusuma

Sehubungan dengan visual seorang lelaki mengenakan Kostum kuning yang muncul di media elektronik diaktivitas paslon tertentu, saya dengan tegas menyatakan mengenal lelaki ini dengan nama Afei dan bukan Rohaniawan agama Buddha, bukan Bhiksu /Bhikkhu (seorang Bhikkhu /Bhikkhu terdaftar di bawah organisasi resmi yang disebut Sangha). Untuk diketahui bahwasanya Rohaniawan Buddha adalah seseorang yang telah berlatih dalam kehidupan suci dan tidak lagi mengikuti kegiatan Politik praktis(mempraktekkan 227 vinaya/aturan kebikhuan)kecuali sebagai Rohaniawan dalam peran doa kebajikan umat banyak, pengambilan sumpah jabatan, doa suka cita dan duka cita, bimbingan moralitas dalam tujuan pengentasan kejahatan. Demikian kami umumkan demi untuk kejelasan status Rohaniawan dan perannya.