Kabar Benteng

Warga Mengeluhkan Bau Peternakan Sapi milik PT Tanjung Unggul Mandiri

Warga Kampung Kebun Buaya, Desa Pangkalan, Kecamatan Teluknaga, mengeluhkan aroma bau yang ditimbulkan peternakan dan penggemukan sapi milik PT. Tanjung Unggul Mandiri (TUM). Perusahaan ini melakukan aktivitas komersilnya di lahan Desa Tanjung Burung dan perbatasan Desa Pangkalan Kecamatan Teluknaga.

Warga RT 01/RW 03 Kampung Kebun Buaya Desa Pangkalan, Kecamatan Teluknaga, Nur mengatakan, aktivitas peternakan membuat udara tak nyaman dihirup lantaran bau seperti kotoran sapi di waktu tertentu.

“Kalau dibilang bau, memang bau adanya aktivitas peternakan sapi disana. Apalagi kalo waktu sore hari, kan anginnya arah ke sini (warga, red),” ujar Nur kepada Satelit News, Rabu (10/2).

Menurut Nur, selama 12 tahun lebih  perusahaan itu berdiri, tidak pernah dia dan warga mendapat kompensasi atas polusi udara yang ditimbulkan aktivitas PT. TUM. “Boro-boro dapat kompensasi. Selama 12 tahun lebih, yang saya tau gak pernah ada. Apalagi bantuan Covid kayak sekarang,” pungkasnya.

Senada, Nenek Misna menuturkan, sering merasakan pusing kalau mencium aroma bau kotoran sapi. Hanya saja, ia lebih memilih berdiam mengatur nafas.“Jadi kayak udah terbiasa sama baunya. Emang pusing kalau nyium bau sapi ke hidung terasa. Kalau abang-abang mah mungkin belom biasa ya,” kata Misna.

Pantauan Satelit News, lokasi pemukiman hanya berjarak sekitar ratusan meter dengan aktivitas PT TUM atau cuma dibatasi dengan lahan pertanian.

Sementara itu, Aktivis Lingkungan Hidup, Alfi Budairy menyesalkan kondisi tersebut. Menurut dia, jika benar bau yang dihasilkan dari aktivitas pihak swasta, sama saja itu membuat penderitaan secara perlahan-lahan.

“Bayangkan saja 12 tahun lamanya PT. TUM mencari keuntungan hasil dari pada ternak sapi. Tapi lingkungan sekitar terabaikan dan malah terkesan membuat penderitaan secara perlahan-lahan, akibat mencium aroma bau setiap hari,” ujarnya.

Pegiat lingkungan ini menuturkan, kejadian yang menimpa warga jelas melanggar UU Nomor 32 Tahun 2009, tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dia berharap pemangku kebijakan daerah bisa mengambil langkah tegas, untuk menindak lanjuti perusahaan swasta yang mengabaikan lingkungan.

“Ada aturannya, jika terbukti benar apa yang dikeluhkan warga kalau sumber baunya dari aktivitas perusahaan peternakan sapi. Pemangku kebijakan daerah eloknya harus segera bertindak, melakukan langkah-langkah yang konkrit untuk kepentingan umum,” pungkasnya.